Selasa, 14 September 2010

Teori Interaksional


Perspektif Interaksional. Sejarah Munculnya Perspektif Interaksional  menunjukkan pandangan komunikasi manusia yang telah berkembang secara tidak langsung dari cabang sosiologi yang dikenal sebagai interaksi simbolis. Interaksi simbolis secara relatif merupakan pendatang baru dalam studi komunikasi manusia, dengan asal historisnya hanya bermula dari abad ke-19 yang lalu. Namun pengaruh interaksi simbolis ini bahkan tumbuh lebih belakangan lagi daripada itu.
Fisher (1986) menyebutkan, Goerge Herbet Mead, umumnya dipandang sebagai tokoh utama di kalangan penganut interaksionisme terdahulu. Pernyataan pokok dari interaksional aliran Mead: Mind, Self, and Society (1934), merupakan salah satu dari keempat buku yang mencantumkan nama sebagai pengarang, yang diterbitkan sebagai penghormatan setelah ia wafat oleh bekas para mahasiswanya. Keempat buku tersebut terdiri dari suntingan, kumpulan, catatan perkuliahan Mead, berkas–berkas lama, karangan–karangan singkat yang tidak diterbitkan, dan lain–lainnya yang dapat dikumpulkan oleh mereka.
Sejaman dengan  Mead, banyak pula penganut paham interaksionisme simbolis, seperti Charles H. Cooley, William I. Thomas, William James, John Dewey, James M. Baldwin, dan Elsworth Fairs. Namun demikian hanya Mead yang meninggalkan filosofis yang sifatnya relatif komprehensif dan sistematis. Oleh karena itulah, Mead yang dipandang sebagai orang pertama yang menjelaskan doktrin filsafat intraksionisme simbolik.
Karakteristik Interaksionisme dalam perspektif Interaksional terdiri dari:
1.     Hakikat “Diri”. Persperktif interaksional menonjolkan keagungan dan nilai individu diatas nilai segala pengaruh yang lainnya. Manusia dalam dirinya memiliki esensi kebudayaan, saling berhubungan, masyarakat, dan buah pikiran. Tiap bentuk interaksi sosial itu dimulai dan berakhir dengan mempertimbangkan diri manusia. Inilah karakteristik utama dari seluruh perspektif ini. Dalam setiap diri individu, perwujudan “diri” mununjukkan eksistensi “saya” (“I”) dan “aku” (“me”).
2.    Hakikat Lambang. Mead menggambarkan bahwa arti lambang sepenuhnya tergantung pada kemampuan individu dalam menempatkan dirinya dalam peranan “orang lain” itu umumnya warga masyarakat yang lebih luas dan bertanya pada dirinya sendiri bagaimana kiranya “orang lain” akan memberikan respon seandainya ia berada pada situasi yang sama (fenomena ini dinamakan “pengambilan peran”).
3.    Hakikat Tindakan Manusia. Perspektif interaksional memungkinkan individu untuk melihat dirinya sendiri sebagaimana orang-orang lain melihat padanya. Supaya menjadi objek penafsiran diri, maka diri (the self) harus meninggalkan dirinya (self) untuk melakukan penafsiran itu; yakni, individu mengasumsikan proses penafsiran orang lain itu (disebut sudut pandang) agar dapat menentukan aku (the self) tadi. Jadi, si individu tersebut mengambil peran orang lain “Orang lain” tertentu di luar dirinya dan terlihat dalam penafsiran persis seperti apa yang akan ia lakukan terhadap setiap objek lain, baik objek fisik maupun sosial.
4.    Hakikat Tindakan Sosial. Ciri yang penting dari tindakan sosial adalah penjelasan mengapa tindakan kolektif itu terbentuk. Tindakan secara kolektif  bukanlah produk dari kekuatan ataupun pengaruh lingkungan akan tetapi secara langsung disebabkan individu-individu menyelaraskan atau “mencocokkan” tindakan mereka dengan tindakan individu orang lain.
Perspektif interaksional menonjolkan keagungan dan nilai individu di atas segala pengaruh yang lainnya. Manusia dalam dirinya memiliki esensi kebudayaan, saling berhubungan, bermasyarakat, dan buah pikiran.Dalam setiap proses penunjukkan diri apapun, individu itu sendiri merupakan objek penafsiran. Perspektif interaksional tentang komunikasi manusia amat sering dinyatakan sebagai “komunikasi dialogis” atau komunikasi yang dipandang sebagai dialog.Perspektif Interaksional mengakui bahwa para pelaku komunikasi secara timbal balik menanggapi satu sama lain. Umpan balik dan efek bersama merupakan kunci konsep. Komunikasi sebagai monolog mengandung pandangan mekanistis tentang seseorang (atau suatu lingkungan) “yang sedang melakukan sesuatu atas” orang yang lainnya. Perspektif interaksional sendiri lebih banyak menghasilkan diskusi dan gejolak daripada menghasilkan penelitian-penelitian empiris yang sesungguhnya. Lebih-lebih lagi, interaksionisme telah menimbulkan kepekaan atau kesadaran yang makin tinggi di kalangan para anggota masyarakat ilmiah akan kekurangan perspektif-perspektif yang lebih bersifat tradisional. Umumnya penelitian komunikasi yang mencerminkan perspektif interaksional terdiridari kelompok studi yang relatif terpisah-pisah dalam kerangka studi yang luas, yang berorientasi pada prinsip yang sama.
Contoh rekayasa pembelajaran :
Andry, seorang mahasiswa sedang memberitahukan masalah BBM kepada temannya, Falencia . Ia memberitahukan bahwa harga premium akan turun bulan Desember mendatang. Disisi lain, ternyata Falencia juga memikirkan hal yang sama yaitu penurunan harga premium.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar